Head Office : Zimbali Costa Y5-63, Grand Island, Pakuwon City. Surabaya  | 0821 3997 0990    –    Branch Office : SOHO @PODOMORO  CITY Lt. 21 No. 23 Jakarta Barat 11470 | 0812 1948 6741

  • No products in the cart.
Image Alt

Seputar Lebaran 2019

  >  Seputar Lebaran 2019

Seputar Lebaran 2019

1. Apa yang dimaksud dengan THR

Tunjungan Hari Raya Keagamaan atau biasa disebut THR adalah hak pendapatan pekerja yang wajib dibayarkan oleh pengusaha kepada pekerja menjelang Hari Raya keagamaan yang berupa uang. Hari Raya Keagamaan disini adalah Hari Raya Idul Fitri bagi pekerja yang beragama Islam, Hari Raya Natal bagi pekerja yang beragama Nasrani, Hari Raya Nyepi bagi pekerja bergama Hindu dan Hari Raya Waisak bagi pekerja yang beragama Budha.

 

2. Adakah undang-undang atau peraturan yang mengatur mengenai THR?

Ada, yaitu Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi No. 6 Tahun 2016 tentang Tunjangan Hari Raya Keagamaan Bagi Buruh/Pekerja di Perusahaan dimana peraturan ini menggantikan Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi No.PER.04/MEN/1994

 

3. Siapa yang wajib membayar THR ?
Berdasarkan Permenaker No.6/2016, setiap orang yang mempekerjakan orang lain dengan imbalan upah wajib membayar THR, baik itu berbentuk perusahaan, perorangan, yayasan atau perkumpulan.

 

4. Apakah semua pekerja berhak mendapat THR ?
Sesuai dengan yang tertera di Permenaker No.6/2016 pasal 2, pengusaha diwajibkan untuk memberi THR Keagamaan kepada pekerja yang telah mempunyai masa kerja 1 (satu) bulan atau lebih secara terus-menerus. Peraturan ini tidak membedakan status pekerja apakah telah menjadi karyawan tetap, karyawan kontrak atau karyawan paruh waktu

 

5. Apakah Karyawan Non Muslim juga berhak Atas THR Lebaran ?
THR merupakan kewajiban yang harus dibayar oleh pengusaha kepada pekerja menjelang Hari Raya Keagamaan. Yang dimaksud dengan Hari Raya Keagamaan berdasarkan Pasal 1 ayat 2 Permenaker No.6/2016 adalah adalah Hari Raya Idul Fitri bagi pekerja yang beragama Islam, Hari Raya Natal bagi pekerja yang beragama Nasrani, Hari Raya Nyepi bagi pekerja yang beragama Hindu dan Hari Raya Waisak bagi pekerja yang beragama Budha. Jadi, THR tidak hanya diberikan kepada pekerja yang beragama Islam saja, melainkan diberikan kepada pekerja semua agama.

 

6. Berapa besar THR yang harus diberikan kepada pekerja

Besarnya THR sebagaimana diatur dalam pasal 3 ayat 1 Permenaker No.6/2016 ditetapkan sebagai berikut :
a. Pekerja yang telah mempunyai masa kerja 12 bulan secara terus menerus atau lebih sebesar 1(satu) bulan upah.
b. Pekerja yang mempunyai masa kerja 1 bulan secara terus menerus tetapi kurang dari 12 bulan diberikan secara proporsional dengan masa kerja yakni dengan perhitungan masa kerja/12×1(satu) bulan upah

 

7. Perhitungan THR
Untuk lebih jelas mengenai perhitungan THR, berikut Gaji berikan beberapa contoh kasus :

7.1 Contoh kasus A
Suster Alya telah bekerja sebagai suster selama 3 tahun, Aliya mendapat upah pokok sebesar Rp 3.000.000/Bulan, uang cuti Rp. 100.000/Bulan, Tunjangan transportasi pulang kampung Rp 200.000
Jawaban :
Rumus untuk menghitung THR bagi pekerja yang telah mempunyai masa kerja 12 bulan adalah 1xupah/bulan. Upah disini adalah jumlah gaji pokok

Gaji pokok : Rp. 3.000.000

Tunjangan tidak tetap : Rp 100.000 uang cuti + Rp 200.000 Transportasi pulang kampung.

Tunjangan transportasi dan cuti merupakan tunjangan tidak tetap, karena tunjungan tersebut diberikan secara tidak tetap (tergantung kehadiran & situasi )
Jadi, perhitungan THR yang berhak didapat oleh suster Aliya adalah sebagai berikut :
1xbulan gaji pokok = Rp 3.000.000

7.2 Contoh kasus B
Mbak Anik telah bekerja sebagai PRT di majikan selama 7bulan. Mbak Anik mendapat gaji pokok sebesar Rp 1.800.000. Berapa THR yang bisa didapat Mbak Anik ?

Jawaban :

Rumus menghitung THR bagi pekerja yang mempunyai masa kerja 7 bulan, tetapi kurang dari 12 bulan adalah :
Perhitungan masa kerja/12 x Upah 1x bulan (gaji pokok)

Gaji pokok : Rp 1.800.000

Jadi perhitungan THR yang berhak Mbak Anik dapatkan adalah 7/12x(Rp. 1.800.000) = Rp. 1.050.000

7.3 Contoh kasus C
Suster Tina telah bekerja sebagai suster selama 9 bulan, suster Tina mendapat gaji pokok Rp. 3.200.000/bulan dan uang cuti Rp 100.000/bulan. THR yang seharusnya didapat oleh suster Tina jika selama lebaran tidak pulang ?

Jawaban :

Rumus untuk menghitung THR bagi pekerja yang mempunyai masa kerja kurang dari 12 bulan adalah. Perhitungan masa kerja/12 x upah 1 bulan(gaji pokok)
Gaji Pokok : Rp 3.200.000/bulan
Uang cuti    : Rp 100.000 / bulan (Uang cuti tidak terhitung THR karena diberikan secara tidak tetap(tergantung kehadiran)

Biaya infal karena suster Tina tidak pulang selama lebaran : contoh Rp. 250.000/hari (diluar gaji pokok), perlu diketahui bahwa besarnya infal sekurangnya-kurang nya 7 hari dan sebanyak banyak nya 10 hari. Besar biaya infal disesuaikan dengan pasaran dan kesepakatan antara pekerja dengan majikan.

Jadi, perhitungan THR yang berhak suster Tina dapatkan adalah :

9/12 x 3.200.000 = Rp 2.400.000(THR)
7hari infal x Rp 250.000 = Rp 1.750.000(infal)
Note : Gaji pokok tetap berjalan selama masa infal